Suka Duka Sebuah Pengabdian
Sejak tahun 2007 lulus kuliah D2 PGSD UNY si Tun mengabdi jadi guru honorer di sekolahan negeri. Sampai usianya sudah kepala tiga lebih sedikit, dia tetap mempertahankan status GTTnya. Padahal teman-teman kuliahnya dulu sudah menyandang gelar Profesional dan ber NIP. Penampilan dan gaya hidupnya tentu sudah ketinggalan jauh jika dibandingkan dengan temannya yang sudah bergaji senilai berjut-jut. Penasaran wujudnya Si Tun??? Hahaha.
Dalam hidupnya si Tun selalu memegang prinsip "Alon-alon waton kelakon" rejeki itu misteri Illahi, diburu bakal mlayu yen pancen durung jatahe. Jadi sebenarnya dia bukan tipe pribadi yang ngongso. Kerja keras ya seperlunya saja yang penting selalu dan selalu diniati ibadah. Dapat rejeki sedikit tidak apa-apa, yang penting halal, mberkahi, sehat slamet bagas waras, diparingi enteng nglakoni ngibadah wajib lan sunah. Bukankah tujuan hidup hanya untuk ngibadah? Bukan hanya sekedar memenuhi keinginan dan kebutuhan duniawi yang tidak ada puasssnya ???
Begitu juga dalam hal sesrawungan atau pergaulan dengan teman kerjanya, dia tidak pernah punya prinsip untuk menjadi tukang protes atau tukang kritik atas ulah teman-temannya, dia sadar betul posisi dan kemampuan dirinya. Karena dia pernah merasakan perih tak terperi ketika tiba-tiba Kepala Sekolahnya memberikan surat teguran dan memanggilnya langsung lantaran hamil tua lalu si Tun tanpa ijin, pulang duluan usai mengajar dikelas dan tidak ikut rapat koordinasi untuk persiapan akreditasi. Posisinya hanya sebagai GTT yang tak berdaya, dan kemampuan pikirnya juga sangat terbatas bahkan bisa dikatakan pas-pasan selalu diakuinya. Terbukti gagal seleksi CPNS sampai keempat kalinya menelan pil pahit usai pengumuman.
Tapi entahlah kekuatan dari mana, di tahun ke 11 pengabdiannya jadi GTT, dalam posisi Sekolahannya tidak ada KS yang definitif karena Kepala Sekolahnya sudah Purna dan hanya diampu oleh KS SD sebelah, ndilalloh situasi dan kondisi ruangan kerja guru sedang kurang nyaman, tiap hari adanya hanya keluh kesah yang terdengar dan terasa berat, serasa nyesek kalau terlalu lama dibiarkan. Nah berkat dorongan dan dukungan dari sahabat seperjuangannya si Tun berusaha memberanikan diri untuk mengutarakan uneg-unegnya di forum rapat intern guru supaya semua guru dan warga sekolah untuk gotong-royong, berbenah, mengais sisa-sisa semangat yang mengendor untuk bersama-sama memajukan sekolah dan mempertahankan kepercayaan masyarakat yang telah menitipkan anaknya menimba ilmu di SDnya.
Tidak perlu muluk-muluk kok untuk menjalankan amanah para wali murid yang sudah mempercayakan anaknya pada sekolah saat rapat pleno bulan lalu. Yang penting dari seorang guru itu bisa digugu dan ditiru punya niat tulus untuk mencatat sejarah hidup yang baik yaitu sregepp syemangaaaattt berangkat kerja untuk mengajar, tertib jadwal, dan bertanggung jawab penuh atas kelas yang dibimbingnya.
Soal nilai siswa bagaimana hasilnya itu biarlah urusan Gusti Alloh Yang Maha Memberi.
Diluar dugaan si Tun yang saat rapat berlangsung, air matanya tiba-tiba menganak sungai. Ketika dia berusaha meloloskan satu persatu uneg-unegnya, justru tanggapan dari segelintir guru seolah-olah memojokkan dia dengan kalimat yang menyakiti. "Anda itu, nyuwun sewu jangan berlagak sok jadi Kepala Sekolah ngajak sesama guru untuk ini untuk itu, kalau capek itu istirahat jangan malah mencari kesalahan orang lain" suara guru itu terdengar bagai petir di siang bolong. Si Tun lantas menepuk dadanya supaya diberikan kesabaran berlapis seperti wafer tanggo. Dia berfikir sejenak jika pengorbanannya selama ini demi sekolahan yo jadi Guru Kelas nyambi Nggarap Bos, Nggarap Aset Nyambi ngrampungi tugas TU yang seabreg ternyata tidak ada artinya bagi teman kerjanya, berarti Gusti Alloh menyuruhnya untuk meningkatkan stok kesabarannya.
Tak ada alasan yang perlu disesali ataupun dendam pada seseorang, karena pada dasarnya kebanyakan manusia mengalami kesulitan mencari keburukan dirinya sendiri, si Tun berusaha menghibur diri dengan tertawa jahat menyadari kebodohannya. Namun dia tetep berpegang teguh dengan prinsipnya. "Ngopo ndadak tak dipikir jero, jar-kan saja omongannya yang saliwang itu. Anggap saja kalimatnya yang nylekit itu seperti kerikil yang berusaha menganggu niat baiknya untuk memajukan Sekolahan, tak ada perjuangan yang mulus, semulus jalan tol apalagi untuk cita-cita mulia" hiburnya. Si Tun saat ini hanya butuh selonjoran santai sejenak fokus pada keluarga kecilnya yang sangat dia sayangi sambil menghayal dan mencari ide-ide kreatif untuk mengajak warga sekolah yang lain, selain guru itu tentunya. Hehe. Soale ada rasa trauma mendalam kalau harus pakai acara golek bolo dari kalangan guru yang tidak sepaham dan kurang paham arti perjuangan kepiye carane ngurip-urip Sekolahan yang penuh keterbatasan. Cukup sekali saja pengalaman pahit itu terjadi biar tidak berujung tragis dan menyisakan kepedihan. Si Tun tetap yakin bahwa suatu saat pengabdiannya berbuah manis, SD Sekolahannya tempat belajar kesabaran layak menjadikan setiap lulusannya menjadi siswa yang berkualitas dan cerah masa depannya. Hanya doa yang bisa dia rapalkan dalam setiap sujud terakhirnya.
Semoga senantiasa dikaruniai konco-konco seng waras lahir batin, ora rewelan. Gelem dijak rekoso ngapik-apik SD Karangmojo 1.
Maturnuwun sudah kerso membaca tulisan jelek saya ini.
Maaf bahasane campuran biar tidak mboseni karep saya ki, hahahaha
Sejak tahun 2007 lulus kuliah D2 PGSD UNY si Tun mengabdi jadi guru honorer di sekolahan negeri. Sampai usianya sudah kepala tiga lebih sedikit, dia tetap mempertahankan status GTTnya. Padahal teman-teman kuliahnya dulu sudah menyandang gelar Profesional dan ber NIP. Penampilan dan gaya hidupnya tentu sudah ketinggalan jauh jika dibandingkan dengan temannya yang sudah bergaji senilai berjut-jut. Penasaran wujudnya Si Tun??? Hahaha.
Dalam hidupnya si Tun selalu memegang prinsip "Alon-alon waton kelakon" rejeki itu misteri Illahi, diburu bakal mlayu yen pancen durung jatahe. Jadi sebenarnya dia bukan tipe pribadi yang ngongso. Kerja keras ya seperlunya saja yang penting selalu dan selalu diniati ibadah. Dapat rejeki sedikit tidak apa-apa, yang penting halal, mberkahi, sehat slamet bagas waras, diparingi enteng nglakoni ngibadah wajib lan sunah. Bukankah tujuan hidup hanya untuk ngibadah? Bukan hanya sekedar memenuhi keinginan dan kebutuhan duniawi yang tidak ada puasssnya ???
Begitu juga dalam hal sesrawungan atau pergaulan dengan teman kerjanya, dia tidak pernah punya prinsip untuk menjadi tukang protes atau tukang kritik atas ulah teman-temannya, dia sadar betul posisi dan kemampuan dirinya. Karena dia pernah merasakan perih tak terperi ketika tiba-tiba Kepala Sekolahnya memberikan surat teguran dan memanggilnya langsung lantaran hamil tua lalu si Tun tanpa ijin, pulang duluan usai mengajar dikelas dan tidak ikut rapat koordinasi untuk persiapan akreditasi. Posisinya hanya sebagai GTT yang tak berdaya, dan kemampuan pikirnya juga sangat terbatas bahkan bisa dikatakan pas-pasan selalu diakuinya. Terbukti gagal seleksi CPNS sampai keempat kalinya menelan pil pahit usai pengumuman.
Tapi entahlah kekuatan dari mana, di tahun ke 11 pengabdiannya jadi GTT, dalam posisi Sekolahannya tidak ada KS yang definitif karena Kepala Sekolahnya sudah Purna dan hanya diampu oleh KS SD sebelah, ndilalloh situasi dan kondisi ruangan kerja guru sedang kurang nyaman, tiap hari adanya hanya keluh kesah yang terdengar dan terasa berat, serasa nyesek kalau terlalu lama dibiarkan. Nah berkat dorongan dan dukungan dari sahabat seperjuangannya si Tun berusaha memberanikan diri untuk mengutarakan uneg-unegnya di forum rapat intern guru supaya semua guru dan warga sekolah untuk gotong-royong, berbenah, mengais sisa-sisa semangat yang mengendor untuk bersama-sama memajukan sekolah dan mempertahankan kepercayaan masyarakat yang telah menitipkan anaknya menimba ilmu di SDnya.
Tidak perlu muluk-muluk kok untuk menjalankan amanah para wali murid yang sudah mempercayakan anaknya pada sekolah saat rapat pleno bulan lalu. Yang penting dari seorang guru itu bisa digugu dan ditiru punya niat tulus untuk mencatat sejarah hidup yang baik yaitu sregepp syemangaaaattt berangkat kerja untuk mengajar, tertib jadwal, dan bertanggung jawab penuh atas kelas yang dibimbingnya.
Soal nilai siswa bagaimana hasilnya itu biarlah urusan Gusti Alloh Yang Maha Memberi.
Diluar dugaan si Tun yang saat rapat berlangsung, air matanya tiba-tiba menganak sungai. Ketika dia berusaha meloloskan satu persatu uneg-unegnya, justru tanggapan dari segelintir guru seolah-olah memojokkan dia dengan kalimat yang menyakiti. "Anda itu, nyuwun sewu jangan berlagak sok jadi Kepala Sekolah ngajak sesama guru untuk ini untuk itu, kalau capek itu istirahat jangan malah mencari kesalahan orang lain" suara guru itu terdengar bagai petir di siang bolong. Si Tun lantas menepuk dadanya supaya diberikan kesabaran berlapis seperti wafer tanggo. Dia berfikir sejenak jika pengorbanannya selama ini demi sekolahan yo jadi Guru Kelas nyambi Nggarap Bos, Nggarap Aset Nyambi ngrampungi tugas TU yang seabreg ternyata tidak ada artinya bagi teman kerjanya, berarti Gusti Alloh menyuruhnya untuk meningkatkan stok kesabarannya.
Tak ada alasan yang perlu disesali ataupun dendam pada seseorang, karena pada dasarnya kebanyakan manusia mengalami kesulitan mencari keburukan dirinya sendiri, si Tun berusaha menghibur diri dengan tertawa jahat menyadari kebodohannya. Namun dia tetep berpegang teguh dengan prinsipnya. "Ngopo ndadak tak dipikir jero, jar-kan saja omongannya yang saliwang itu. Anggap saja kalimatnya yang nylekit itu seperti kerikil yang berusaha menganggu niat baiknya untuk memajukan Sekolahan, tak ada perjuangan yang mulus, semulus jalan tol apalagi untuk cita-cita mulia" hiburnya. Si Tun saat ini hanya butuh selonjoran santai sejenak fokus pada keluarga kecilnya yang sangat dia sayangi sambil menghayal dan mencari ide-ide kreatif untuk mengajak warga sekolah yang lain, selain guru itu tentunya. Hehe. Soale ada rasa trauma mendalam kalau harus pakai acara golek bolo dari kalangan guru yang tidak sepaham dan kurang paham arti perjuangan kepiye carane ngurip-urip Sekolahan yang penuh keterbatasan. Cukup sekali saja pengalaman pahit itu terjadi biar tidak berujung tragis dan menyisakan kepedihan. Si Tun tetap yakin bahwa suatu saat pengabdiannya berbuah manis, SD Sekolahannya tempat belajar kesabaran layak menjadikan setiap lulusannya menjadi siswa yang berkualitas dan cerah masa depannya. Hanya doa yang bisa dia rapalkan dalam setiap sujud terakhirnya.
Semoga senantiasa dikaruniai konco-konco seng waras lahir batin, ora rewelan. Gelem dijak rekoso ngapik-apik SD Karangmojo 1.
Maturnuwun sudah kerso membaca tulisan jelek saya ini.
Maaf bahasane campuran biar tidak mboseni karep saya ki, hahahaha

Komentar
Posting Komentar