Langsung ke konten utama

Si Jum Kudu Tabah

BERSABARLAH DENGAN KAWANMU

Siang panas yang teriknya bisa membuat kepala jadi nggliyeng tak karuan. Waktu itu menunjukkan pukul 11.50 WIB sudah selesai sholat berjamaah dhuhur yang rutin diadakan di sekolah. Setelah selesai ngajar dan semua siswa kelas 1 dibubarkan,  si Jum kembali menyentuh laptop usang kesayangannya di meja dapur, sambil nyruput teh yang sudah dingin ia mendengarkan keluh kesah teman karibnya. "Eh bu, tak critani to, kemarin pas aku beli sayuran di warung dekat sekolahan, waktu aku sedang milih sayuran telingaku dengan gamblang menangkap suara seorang ibu, Eh Mbakyu... Pak Jojon ki ternyata sekarang ngajar di SD Maju Sari ya? Seorang ibu muda lain menjawabnya ;
Iya, bu. Aku juga heran, mau jadi apa SD Maju Sari kemasukan guru macam Jojon. Ucapnya pedass seolah menyimpan pesan wes ueelek tambah elekk tentang SD Maju Sari dan kekecewaan mendalam terhadap Pak Jojon. Waktu itu aku hanya diam bu, dan fokus belanja kebutuhan dapurku. Tak mungkin aku ikut nimbrung kondisi warung sedang banyak pembeli dan bikin suasana gerah makin panas meski mulutku ngampet alias nahan ingin membantah dan penasaran misteri apakah sebenarnya yang dialami ibu muda tersebut tentang Pak Jojon." Ucap temanku dengan sungguh-sungguh.
Si Jum hanya pasrah ngalah dan berusaha tidak kaget meski  si Jum juga penasaran dan membatin " Yaa Alloh, misteri apa lagi ini".
Pak Jojon memang
guru baru di SD Maju Sari yang sebulan  lalu pindah dari kecamatan sebelah karena mutasi.
Sampai rumah seperti biasa Si Jum parkir sepeda motor buntut kesayangannya, lalu masuk rumah dengan umik-umik kulhu sekali memohon agar keberkahan selalu mengiringi keluarga dan tiap langkahnya, seperti pesan kyai kharismatik yang diidolakan. Setelah menaruh tas dan sepatu, ia lanjut menjemput si bungsu yang sekolah di RA tepatnya di seberang jalan dekat rumahnya. Seperti biasa begitulah tiap hari aktivitasnya. Sampai dirumah, ia jadi ibu rumah tangga tulen berpakaian daster lalu memasak (kalau pas tidak kumat malesnya lho ya) menyapu, ngepel kamar, dapur, halaman, melipat baju yang menggunung, ndulang anak, mendampingi anak bermain, ngibadah di masjid lalu ngaji, mbakar sampah, nyuci baju, piring dll begitu terus sampai malam saatnya istirahat. Terkadang tidur paling akhir tak jarang dilakukan biar tidak menunda-nunda pekerjaan rumah  supaya saat mata terpejam semuanya sudah dalam kondisi beres, besok paginya bisa berangkat pagi tanpa ada drama. Si Jum senantiasa mensyukuri atas segala nikmat yang telah diterima, karena pada dasarnya manusia didunia itu hanya menyaksikan dan menjalani sifat QudrahNya Alloh semata. Anak anak yang sehat ceria, suami yang Apikan, Nriman dan Loman semua itu merupakan bukti nyata kasih sayang Alloh kepadanya. Alloh berkenan memberikan jodoh, anak-anak lucu yang terbiasa diajak urip rekoso, opo anane, tidak banyak tuntutan. "Alhamdulillah,,, maturnuwun duh Gusti diparingi anak bojo seng sae, konco urip seng mboten sungkan nyemok gawean ngomah", ucap lirih dalam batinnya tiap ia bersama-sama uplek masak resep ala kadarnya.
Dalam hening sepertiga malam si Jum selalu melangitkan doa tiap hari, semoga nikmat demi nikmat yang luar biasa melimpah untuk keluarganya selalu jadi kenangan indah di akhirat dan bernilai ibadah, senantiasa menjadi hamba yang banyak bersyukur.
Saat di rumah sejenak ia bisa melupakan semua urusan pekerjaan di sekolahan. Mulai dari masalahnya di kelas, masalah tagihan laporan dinas dan permasalahan intern bersama teman kerjanya. Waktu di rumah pikiran dan hati harus fokus di rumah, nah setelah semuanya beres dan pikiran tenang si Jum  tak jarang meluangkan waktunya untuk menyelesaikan pekerjaan di sekolah yang sempat tertunda. Dalam prinsipnya Keluarga tetap prioritas nomer wahid.
Sesuatu yang sering membuat si Jum resah, sedih, galau itu kalau mengingat keluh kesah yang urut bergantian mengenai keburukan dan kesalahan si A, si B, si C dan si D dari temannya.  Sementara si Jum menyaksikan sendiri hampir semua semangat kerja teman-temannya itu memang menurun akibat tidak ada Kepala Sekolah yang Definitif di SD Maju Sari. Sehingga jarang ada koordinasi bahkan sudah lama tidak ada rapat yang bisa menyatukan perbedaan pendapat diantara guru secara intern. Dan anehnya  si Jum sering juga terlena ikut khusuk masyuk dalam majelis rasan-rasan yang berujung gundah gulana tersebut. Akhir-akhir ini ia menyadari keburukan dan kesalahan dirinya pun juga sak umbyuk menggunung beranak-pinak. Suatu saat pasti keburukannya lah yang akan dijadikan bahan rasan-rasan. Manusia itu kelihatan baik dimata orang lain lantaran Alloh sedang menutupi aibnya. Begitu juga dengan keburukan yang sedang tampak. Tapi terkadang si Jum lupa daratan dan khilaf ikut tersesat. Si Jum...si Jum dasar guru dengan predikat "Wagu Tur Saru" plus nek Minggu Gaweane mung Turu".
Senin pagi rapat intern sekolah, sehari sebelumnya ia mengirim pesan wa kepada kepala sekolah yang mengampu SDnya untuk  hadir di upacara rutin dan mengadakan rapat,  dalam acara usulan dan tanggapan si Jum menyampaikan sedikit uneg-unegnya jika selama ini ia hanya punya modal tresno untuk SDnya, dia tidak punya kekuatan apapun untuk ngapik-apike sekolahan apalagi untuk mengajak warga sekolah agar sekolahannya maju dan tetap mendapatkan kepercayaan dari masyarakat sekitar. Ia hanya prihatin tiap tahun jumlah siswanya makin menyusut, jika dalam 3 tahun berturut-turut jumlah siswanya dibawah 60 anak, maka otomatis dana BOS akan dihentikan pencairannya dan sekolahan yang selama 9 tahun memberikan banyak pengalaman suka duka untuk dirinya harus diregrouping. Siswa dan gurunya akan digabungkan dengan sekolahan terdekat. Ia hanya menyampaikan ajakan untuk tepat dan tertib jadwal dalam kelas agar suasana Kegiatan Belajar Mengajar tetap kondusif,  jika ijin maka tetap bertanggung jawab penuh dengan kelas yang ditinggalkan. Karena ia sering jadi guru siluman yang harus berpindah pindah kelas memberi tugas pada kelas yang kosong padahal sudah banyak tugas tambahan yang harus ia tanggung biar sekolahan tetap selamat dan exist keberadaannya.
Namun tak disangka Pak Jojon justru memberikan komentar pedas, mengatakan sikap si Jum seolah berlebihan, ia sudah berlagak seperti Kepala Sekolah, ngajak ini ngajak itu. Kalau capek ya istirahat, jangan malah  mencari-cari kesalahan orang lain. Di telinga si Jum
komentar pedas itu bagai petir disiang bolong.
Si Jum sampai detik ini mengalami trauma mendalam, ia meratapi nasibnya yang malang. Pokoke pengalaman pahit ini sudah cukup memberikan pelajaran berharga, lain kali tidak akan diulangi lagi  ia anti pati untuk ajak-ajak pada teman kerjanya sementara ia hanya remahan peyek gosong di SD Maju Sari. Ia sadar akan kebodohannya sendiri, lebih baik memulai sesuatu yang baik dari dirinya sendiri tanpa memperdulikan orang lain. Komentar dari masyarakat apapun bunyinya biarlah waktu yang menjawab. Toh Becik ketitik olo bakal ketoro pasti tetap berlaku. Bukankah kita hidup hanya sekedar menyaksikan QudrahNya Alloh. Kisah dan peristiwa sedih, senang, bahagia, kecewa itu sudah tertulis di Lauhul Mahfudz sebelum kita dilahirkan kedunia. Batinnya menerocos membela diri meski sebenarnya disisi lain ia bersyukur sudah berhasil memuntahkankan uneg-unegnya.
Si Jum hanya bisa mengucapkan Terimakasih Pak Jojon sudah mengingatkan si Jum untuk belajar rendah hati. Mungkin tanpa komentar pedasnya ia makin lupa daratan dan semakin tersesat. "Jika dicemooh SOMBONG bisa membuat kita belajar RENDAH HATI, jauh lebih baik dari pada kita dipuji RENDAH HATI yang menjadikan kita SOMBONG". Ia ingat betul nasehat guru besar HBO Ning Mila dalam statusnya dan selalu ia idolakan tiap buka Facebook.
Wejangan  yang disampaikan dari bapaknya si Jum yang tiap kali ia ingin resign dari mengabdi di SD juga turut menentramkan dirinya saat luka yang menganga itu kian menyiksa. "Nak, hatimu jangan seperti air kobokan yang hanya sekali dipakai langsung keruh menjijikkan, berusaha lah sekuat tenaga agar hatimu seperti air laut, meski kotor berkali-kali tetap suci. Intinya jadilah orang yang pemaaf. Maka hidupmu akan ayem, tentrem damai " , begitu ucap bapak si Jum. Ia juga ingat status kawan baiknya guru PAI yang selama 4 tahun malang melintang bergandeng tangan saling melengkapi mengurus SD Maju Sari. Kawan si Jum yang bernama Sofia itu Alhamdulillah telah bernasib mujur mendapatkan NIP duluan dan bertugas di SMP. Waktu itu saat Sofia sedang menerima SK CPNS di gedung Sewoko Projo dia menuliskan sebuah status wa
"Bekerjalah dengan ikhlas, maka lihatlah hasilnya, pimpinan bisa saja menilaimu salah, tapi Alloh tak pernah keliru. (Sambutan Kepala Dinas Dikpora GK, Bahron Rosyid)
Subhanallah...nasehat demi nasehat yang berkeliaran dibenaknya itu sedikit mengobat hati si Jum. Laksana air segar yang menyirami tanaman tandus dan kering kerontang, si Jum berjanji ia akan tetap semangat mengabdi dan terus memperbaiki diri.
Apapun takdir yang harus kita lalui itu semua pasti kehendak Alloh. Tetep be Stronger dan optimis diimbangi dengan action untuk memperbaiki diri.


Komentar