Suatu hari yang cerah, secerah suasana hatiku tatkala bercengkrama dengan keluarga kecilku. Aku mensyukuri atas semua anugerah yang Alloh berikan kepadaku. Rasanya aku tak sanggup menghitung jumlah nikmat karuniaNya. Betapa besarrr kasih sayangNya untukku, satu persatu bisa terwujud impian di masa kecilku.
Aku yang dari lahir bersifat pemalu dan minderan, kini bisa hidup dengan banyak peluang untuk mengabdikan diri, berbagi secuil ilmuku dan membersamai kedua buah hatiku menjadikan keduanya anak hebat, tangguh dan tahan banting dalam segala situasi.
Dalam satu pekan aku punya tugas tambahan dua ekstrakurikuler dan satu les mapel. Aktivitas itu aku jalani sambil mengajak kedua momonganku usai mengajar di kelas 1. Meski rempong dan sedikit rewel melanda sudah jadi konsekwensinya, asal keduanya tetep dalam kondisi sehat itu sudah melancarkan semua aktivitas harianku.
Semenjak kegagalanku mengikuti ujian tes CPNS 2018, aku merasakan sempoyongan dihati kecilku tatkala menyaksikan renyah tawa bahagia semua teman kuliahku yang sudah berubah statusnya menjadi pegawai negeri. Diriku rapuh dan terasa berat untuk tetap teguh rela mengorbankan waktu untuk mengabdikan diri. Tak bisa kupungkiri bagaimanapun juga aku manusia biasa yang masih mudah berburuk sangka atas takdirNya dan belum rela menerima kegagalan dengan deretan yang cukup fantastis yaitu ke empat kalinya.
Ku sadari dengan sungguh, jika kecemasan atas kegagalanku tahun ini menunjukkan bahwa kualitas keimanan ku masih tahap ecek-ecek. Amal ibadahku masih jaaauhh dari kata bagus. Aktivitas ibadahku jauh dari kata ikhlas. Tergambar sangat jelas dipikiranku bahwa dengan memperbanyak tirakat ada pamrih yang muluk-muluk agar hajat yang ku harapkan dapat berhasil. Alangkah malunya diri ini, jika menyadari kedunguanku.
Astagfirullah itulah kalimat yang sering terucap jika aku teringat sesi terakhir menyaksikan layar laptop menunjukkan skor nilai ujian CPNS. Ambyar seketika semangat yang telah ku bangun dan detak jantungku serasa berkejaran menyadari kebodohan yang selama ini tersemat pada diriku.
Meskipun tertatih-tatih untuk bangun dan macak wajah sumrigah, Alhamdulillah kini aku sudah bisa memahami dan mengambil pengalaman saat melewati masa sulit itu. Hidup yang bermanfaat untuk orang lain itu berawal dari usaha untuk memanfaatkan kesempatan.
Buanyakk kesempatan untuk berbuat baik dan terus memperbaiki diri. Memantaskan diri agar keberuntungan bisa berpihak padaku dan merubah masa depan yang penuh misteri ini.
Meski dengan langkah gontai dan hati kebat-kebit kumantapkan langkahkan kakiku, ku usir segala keraguanku, melaju santai dengan motor buntut kesayanganku, yang sudah belasan tahun istiqomahhhh aku tunggangi tanpa ragu berjalan menyusuri arah sekolahan tempatku mengabdi.
Dalam anganku selalu terbesit pepatah jawa adhang-adhang tetesing embun, yang artinya "pasrah marang peparinge Gusti". Berserah diri atas ndum-nduman Dzat Yang Maha Kaya dan Pemberi Rejeki.
Beruntungnya aku punya pangeran ganteng. Dialah sigaraning nyawaku yang dikirimkan Alloh untuk ibadah bersamaku selamanya, dia selalu sanggup menguatkan setiap perih nasib yang ku alami. Bisa menerimaku dengan segudang keterbatasanku.
Aku dan kekasihku bukan pasangan yang romantis laksana Romeo dan Juliet. Caraku merawat cinta dan kasih sayang sekaligus membesarkan kedua buah hati sangat jauh dari kata kekinian, hanya cukup dengan bersama-sama ibadah mengaji, memasak, makan dan silaturahmi kedua orangtua dan saling berbagi keluh kesah. Itu sudah cukup membuatku tertawa bahagia dan penuh rasa syukur yang mendalam.
Aku dan sang penakluk hatiku adalah dua sejoli yang sama-sama jatuh cinta saat melihat Ka'bah dan sangattttt merindukan aroma wanginya Roudhoh, menginginkan nikmatnya berpuluh- puluh kali sujud di dekat makam Rosululloh. Dan selalu iri jika melihat saudara, teman, handai taulan yang disegerakan untuk berziarah ke Haromain.
Alloh terus, Alloh lagi, Alloh selalu, Alloh Selamanya.
Aku yang dari lahir bersifat pemalu dan minderan, kini bisa hidup dengan banyak peluang untuk mengabdikan diri, berbagi secuil ilmuku dan membersamai kedua buah hatiku menjadikan keduanya anak hebat, tangguh dan tahan banting dalam segala situasi.
Dalam satu pekan aku punya tugas tambahan dua ekstrakurikuler dan satu les mapel. Aktivitas itu aku jalani sambil mengajak kedua momonganku usai mengajar di kelas 1. Meski rempong dan sedikit rewel melanda sudah jadi konsekwensinya, asal keduanya tetep dalam kondisi sehat itu sudah melancarkan semua aktivitas harianku.
Semenjak kegagalanku mengikuti ujian tes CPNS 2018, aku merasakan sempoyongan dihati kecilku tatkala menyaksikan renyah tawa bahagia semua teman kuliahku yang sudah berubah statusnya menjadi pegawai negeri. Diriku rapuh dan terasa berat untuk tetap teguh rela mengorbankan waktu untuk mengabdikan diri. Tak bisa kupungkiri bagaimanapun juga aku manusia biasa yang masih mudah berburuk sangka atas takdirNya dan belum rela menerima kegagalan dengan deretan yang cukup fantastis yaitu ke empat kalinya.
Ku sadari dengan sungguh, jika kecemasan atas kegagalanku tahun ini menunjukkan bahwa kualitas keimanan ku masih tahap ecek-ecek. Amal ibadahku masih jaaauhh dari kata bagus. Aktivitas ibadahku jauh dari kata ikhlas. Tergambar sangat jelas dipikiranku bahwa dengan memperbanyak tirakat ada pamrih yang muluk-muluk agar hajat yang ku harapkan dapat berhasil. Alangkah malunya diri ini, jika menyadari kedunguanku.
Astagfirullah itulah kalimat yang sering terucap jika aku teringat sesi terakhir menyaksikan layar laptop menunjukkan skor nilai ujian CPNS. Ambyar seketika semangat yang telah ku bangun dan detak jantungku serasa berkejaran menyadari kebodohan yang selama ini tersemat pada diriku.
Meskipun tertatih-tatih untuk bangun dan macak wajah sumrigah, Alhamdulillah kini aku sudah bisa memahami dan mengambil pengalaman saat melewati masa sulit itu. Hidup yang bermanfaat untuk orang lain itu berawal dari usaha untuk memanfaatkan kesempatan.
Buanyakk kesempatan untuk berbuat baik dan terus memperbaiki diri. Memantaskan diri agar keberuntungan bisa berpihak padaku dan merubah masa depan yang penuh misteri ini.
Meski dengan langkah gontai dan hati kebat-kebit kumantapkan langkahkan kakiku, ku usir segala keraguanku, melaju santai dengan motor buntut kesayanganku, yang sudah belasan tahun istiqomahhhh aku tunggangi tanpa ragu berjalan menyusuri arah sekolahan tempatku mengabdi.
Dalam anganku selalu terbesit pepatah jawa adhang-adhang tetesing embun, yang artinya "pasrah marang peparinge Gusti". Berserah diri atas ndum-nduman Dzat Yang Maha Kaya dan Pemberi Rejeki.
Beruntungnya aku punya pangeran ganteng. Dialah sigaraning nyawaku yang dikirimkan Alloh untuk ibadah bersamaku selamanya, dia selalu sanggup menguatkan setiap perih nasib yang ku alami. Bisa menerimaku dengan segudang keterbatasanku.
Aku dan kekasihku bukan pasangan yang romantis laksana Romeo dan Juliet. Caraku merawat cinta dan kasih sayang sekaligus membesarkan kedua buah hati sangat jauh dari kata kekinian, hanya cukup dengan bersama-sama ibadah mengaji, memasak, makan dan silaturahmi kedua orangtua dan saling berbagi keluh kesah. Itu sudah cukup membuatku tertawa bahagia dan penuh rasa syukur yang mendalam.
Aku dan sang penakluk hatiku adalah dua sejoli yang sama-sama jatuh cinta saat melihat Ka'bah dan sangattttt merindukan aroma wanginya Roudhoh, menginginkan nikmatnya berpuluh- puluh kali sujud di dekat makam Rosululloh. Dan selalu iri jika melihat saudara, teman, handai taulan yang disegerakan untuk berziarah ke Haromain.
Alloh terus, Alloh lagi, Alloh selalu, Alloh Selamanya.


Komentar
Posting Komentar